teRsesat yang KonyoL… paRt II

i110201551Udara di sekitar kami bertambah dingin disertai cuaca yang
tak menentu, hujan datang dan beberapa saat kemudian berhenti. Saat kami
beranjak jalan setelah istirahat beberapa saat, kami melihat peserta KRI,
langsung kami menghentikan langkah kami dan menunggu dari belakang sampai
mereka pergi mendahului kami.

Hujan pun mulai turun kembali, dan peserta KRI tersebut
belum beranjak dari tempatnya. Menurut feeling kami, lebih baik kami jalan dulu
biar nanti mendahului mereka. Dan nanti kami bisa diam dulu menunngu mereka (peserta
KRI), lalu kami berdua mengikuti mereka lagi dari belakang. Atas dasar feeling sang panitia ini, kami
berfikir untuk terus jalan meninggalkan mereka. Tentu dengan memakai payung
yang dibawa anie, karena hujannya cukup deras.

Ismie dan anie melihat peserta KRI memperhatikan kami berdua
dengan heran. Entah atas dasar apa, but we don’t care about it. Kami
berdua terus jalan mengikuti feeling kami. Tampak di dekat peserta KRI salah
satu tmandh panitia kami. Mereka berlindung di dekat pos satpam (menurut kami
pada saat itu). Ada dari peserta KRI berkata, “ih, teteh pake payung!”gitu aja,
dan kami tidak menghiraukannya. Kami terus berjalan dengan yakin.

Setelah berjalan cukup jauh, kami mulai sesak bernapas
karena tempat menjadi cukup tinggi. Dan jalan yang harus kami tempuh menjadi
tanjakan yang cukup terjal di sertai bebatuan dan tanah lempung yang kotor. Dan
itu membuat sepatuku hancur total. Aku sempat mengirim sms pada beberapa
teman-temanku yang menjaga pos, sebab kami berdua belum sampai di pos 1. Dan
arahan temanku membuatku dan anie makin bingung karena kami menemukan jalan yg
berbeda dgn yang ditemui tman DKMku sebelumnya.

Aku sempat bertanya pada bapak-bapak tukang rumput yang
melewati kami tentang dimana oray tapa berada, tapi itu “nihil” karena bapak
itu pun tidak tahu sama seperti kami.

Kami sempat istirahat untuk makan bekal, karena perut kami
sudah menampilkan sinyal minta makan. Karena tak terasa sekarang sudah lewat
jam makan siang dan adzan dzuhur pun menemani kami memakan bekal. Walaupun kami
makan sedikit tapi itu cukup untuk menambal perut kami. Tiba-tiba seorang bapak
yang kami kenal papahnya teguh, dengan motor balapnya melewati kami, dan
berhenti sambil berkata…

Papah teguh : “ini anak 24 kan? Yang ikutan KRI kan?Klas berapa? 2 sma ya?”

Anie & ismie : “klas 3, pak. Kami panitia, in jalan mau ke Oray Tapa, kan?”

Papah teguh : “Wah, kalau lewat jalan ini sih. Entar nyampenya ke Sumedang.”

Mendengar jawaban papahnya teguh kami berdua langsung kaget.
Jadi selama ini aku dan anie jalan tak menentu alias “nyasar”.

To be continued…

^_^

Advertisements

~ by mieluvearth on November 22, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: